Rabu, 28 September 2011

KEHAMILAN RISTI

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Berbagai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kebidanan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) mengalami penurunan yang cukup signifikan tahun 2007. Pada tahun 2007 AKB mencapai 34/1000 kelahiran hidup dan AKI mencapai 228/100.000 kelahiran. Angka kematian bayi di sebabkan oleh infeksi sistemik, kelainan bawaan, dan infeksi saluran pernapasan akut. Angka kematian ibu ini masih sangat tinggi yang di sebabkan oleh perdarahan, eklamsia, dan infeksi (Muliadi,2007).

Menurut (Manuaba, 2001) dapat mempercepat tercapainya penurunan angka kematian ibu dan angka kematian perinatal disetiap rumah sakit baik pemerintah maupun rumah sakit swasta telah dicanangkan gagasan untuk meningkatkan pelayanan terhadap ibu dan bayinya melalui RS sayang bayi dan RS sayang ibu. Proses kematian ibu mempunyai perjalanan yang panjang sehingga pencegahannya dapat dilakukan sejak melakukan “Ante Natal Care” (pemeriksaan kehamilan) melalui pendidikan terkait dengan kesehatan ibu hamil, menyusui dan kembalinya alat kesehatan reproduksi, serta menyampaikan betapa pentingnya interval kehamilan berikutnya sehingga tercapai sumber daya manusia yang diharapkan.

Kehamilan risiko tinggi adalah kehamilan patologi yang dapat mempengaruhi keadaan ibu dan janin. Untuk menghadapi kehamilan risiko harus diambil sikap proaktif, berencana dengan upaya promotif dan preventif sampai dengan waktunya harus diambil sikap tegas dan cepat untuk menyelamatkan ibu dan janinnya (Manuaba, 2007).
Penyebab dari kejadian kehamilan risiko pada ibu hamil adalah karena kurangnya pengetahuan ibu tentang kesehatan reproduksi, rendahnya status sosial ekonomi dan pendidikan yang rendah. Dengan adanya pengetahuan ibu tentang tujuan atau manfaat pemeriksaan kehamilan dapat memotivasinya untuk memeriksakan kehamilan secara rutin. Pengetahuan tentang cara pemeliharaan kesehatan dan hidup sehat meliputi jenis makanan bergizi, menjaga kebersihan diri, serta pentingnya istirahat cukup sehingga dapat mencegah timbulnya komplikasi dan tetap mempertahankan derajat kesehatan yang sudah ada. Umur seseorang dapat mempengaruhi keadaan kehamilannya. Bila wanita tersebut hamil pada masa reproduksi, kecil kemungkinan untuk mengalami komplikasi di bandingkan wanita yang hamil dibawah usia reproduksi ataupun diatas usia reproduksi (Rikadewi,2010).

Ibu dapat meningkatkan pengetahuan tentang tanda kehamilan risiko baik melalui tenaga kesehatan terutama bidan, petugas Posyandu, media massa (televisi, koran, dll), sehingga dapat mengenal risiko kehamilan dan mengunjugi bidan atau dokter sedini mungkin untuk mendapatkan asuhan antenatal selain itu pendidikan yang kurang juga memepengaruhi ibu untuk datang memeriksakan kehamilan ( Rikadewi,2010).

Jarak kehamilan yang terlalu pendek kurang dari 2 tahun dan d atas 5 tahun, hamil dibawah usia 20 tahun dan lebih dari 35 tahun berisiko melahirkan bayi dengan kelainan genetik. Begitu juga dengan ibu hamil yang pernah menjalani operasi. Faktor lainnya adalah kondisi fisik atau menetap bagi sang ibu (seperti tinggi badan di bawah 145 cm, biasanya panggul sempit dan akan kesulitan melahirkan secara normal) juga harus diwaspadai. Selain itu, ibu hamil penderita obesitas dan darah tinggi pada kehamilan atau mengalami penyakit lain yang cukup membahayakan sebelum atau saat hamil meruakan faktor-faktor yang dapat menyebabkan kehamilannya berisiko tinggi (judi,2010).

Usia reproduksi sehat untuk hamil berkisar antara 25-30 tahun. Jika kurang atau melebihi usia tersebut, maka mempengarui faktor kesuburan reproduksi yang juga berpengaruh terhadap risiko kehamilan. Banyak cara untuk mengatasi masalah kehamilan berisiko tinggi. Salah satu caranya adalah mempersiapkan mental saat menjalani kehamilan tersebut, ibu hamil juga harus rajin melakukan pemeriksaan rutin untuk mendeteksi kondisi ibu dan janin. Biasanya ibu hamil yang rajin memeriksakan kehamilan secara rutin merasa lebih sehat. Dengan memeriksakan kehamilan secara teratur, komplikasi serta ganguan kehamilan dapat teratasi dibandingkan ibu hamil yang tidak melakukan pemeriksaan kehamilan. Ibu hamil juga perlu mengosumsi gizi yang baik tepat dan seimbang, salah satunya asam folat, guna mengoptimalkan perkembangan janin dan kesehatan ibu sendiri. (Judi,2010).

Anak lebih dari 4 dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan janin dan perdarahan saat persalinan karena keadaan rahim biasanya sudah lemah. Paritas 2-3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut kematian maternal. Paritas 1 dan paritas tinggi (lebih dari 3) mempunyai angka kematian maternal lebih tinggi. Lebih tinggi paritas, lebih tinggi kematian maternal. Risiko pada paritas 1 dapat ditangani dengan asuhan obstetrik lebih baik, sedangkan risiko pada paritas tinggi dapat dikurangi atau dicegah dengan keluarga berencana. Sebagian kehamilan pada paritas tinggi adalah tidak direncanakan.

1.   Pengertian
a.   Risiko tinggi adalah suatu kehamilan patologi yang dapat mempengaruhi keadaan ibu dan  janin (Manuaba, 2008)
b.   Risiko tinggi adalah suatu kehamilan yang memiliki risiko tinggi lebih besar dari biasanya (baik bagi ibu maupun bayinya), akan terjadinya penyakit atau kematian sebelum maupun sesudah persalinan (Nurcahyo,2009)

2.   Tujuan pemeriksaan antenatal care dengan risiko tinggi
a.   Tujuan umum
Menyiapkan seoptimal mungkin fisik, mental ibu dan janin selama kehamilan, persalinan dan nifas sehingga didapat bayi dan ibu yang sehat.
b.   Tujuan khusus
1)  Mengenali dan menangani tanda-tanda penyulit yang akan dijumpai pada kehamilan.
2)  Mengenali dan mengobati tanda-tanda penyulit yang akan dijumpai pada kehamilan.
3)  Memberikan nasehat tentang cara hidup sehari-hari dan Keluarga Berencana, kehamilan persalinan, nifas dan laktasi.

3.   Jadwal pemeriksaan
1.   Usia kehamilan dari hari pertama haid terakhir  sampai 28 minggu : 4 minggu sekali
2.    28 – 36 minggu : 2 minggu sekali
3.   Diatas 36 minggu : 1 minggu sekali
KECUALI jika ditemukan kelainan / faktor risiko yang memerlukan penatalaksanaan medik lain, pemeriksaan harus lebih sering dan intensif.

4.   Jenis-jenis kehamilan risiko tinggi :
Faktor IBU:
1.      Kehamilan pada usia di atas 35 tahun atau di bawah 18 tahun.
Usia ibu merupakan salah satu faktor risiko yang berhubungan dengan kualitas kehamilan. Usia yang paling aman atau bisa dikatakan waktu reproduksi sehat adalah antara umur 20 tahun sampai umur 30 tahun. Penyulit pada kehamilan remaja salah satunya pre eklamsi lebih tinggi dibandingkan waktu reproduksi sehat. Keadaan ini disebabkab belum matangnya alat reproduksi untuk hamil, sehingga dapat merugikan kesehatan ibu maupun perkembangan dan pertumbuhan janin (Manuaba, 1998).
2.      Kehamilan pertama setelah 3 tahun atau lebih pernikahan
3.      Kehamilan kelima atau lebih
Menurut Manuaba (1999) paritas atau para adalah wanita yang pernah melahirkan dan di bagi menjadi beberapa istilah :
1)    Primipara yaitu wanita yang telah melahirkan sebanyak satu kali
2)    Multipara yaitu wanita yang telah pernah melahirkan anak hidup beberapa kali, di mana persalinan tersebut tidak lebih dari lima kali
3)    Grandemultipara yaitu wanita yang telah melahirkan janin aterm lebih dari lima kali.
4.      Kehamilan dengan jarak antara di atas 5 tahun atau kurang dari 2 tahun.
Pada kehamilan dengan  jarak < 3 tahun keadaan endometrium mengalami perubahan, perubahan ini berkaitan dengan  persalinan sebelumnya yaitu timbulnya trombosis, degenerasi dan nekrosis di tempat implantasi plasenta. Adanya kemunduran fungsi dan berkurangnya vaskularisasi pada daerah endometrium pada bagian korpus uteri mengakibatkan daerah tersebut kurang subur sehingga kehamilan dengan  jarak < 3 tahun dapat menimbulkan kelainan yang  berhubungan dengan  letak dan keadaan plasenta.
5.      Tinggi badan ibu kurang dari 145  cm dan ibu belum pernah melahirkan bayi cukup bulan dan berat normal.
Wanita hamil yang mempunyai tinggi badan kurang dari 145 cm, memiliki resiko tinggi mengalami persalinan secara premature, karena lebih mungkin memiliki panggul yang sempit.
6.      Kehamilan dengan penyakit (hipertensi, Diabetes, Tiroid, Jantung, Paru, Ginjal, dan penyakit sistemik lainnya)
Kondisi sebelum hamil seperti hipertensi kronis, diabetes, penyakit ginjal atau lupus, akan meningkatkan risiko terkena preeklamsia. Kehamilan dengan hipertensi esensial atau hipertensi yag telah ada sebelum kehamilan dapat berlangsung sampai aterm tanpa gejala mejadi pre eklamsi tidak murni. Penyakit gula atau diabetes mellitus dapat menimbulkan pre eklamsi dan eklamsi begitu pula penyakit ginjal karena dapat meingkatkan tekanan darah sehingga dapat menyebabkan pre eklamsi.
7.      Kehamilan dengan keadaan tertentu ( Mioma uteri, kista ovarium)
Mioma uteri dapat mengganggu kehamilan dengan dampak berupa kelainan letak bayi dan plasenta, terhalangnya jalan lahir, kelemahan pada saat kontraksi rahim, pendarahan yang banyak setelah melahirkan dan gangguan pelepasan plasenta, bahkan bisa menyebabkan keguguran. Sebaliknya, kehamilan juga bisa berdampak memperparah Mioma Uteri. Saat hamil, mioma uteri cenderung membesar, dan sering juga terjadi perubahan dari tumor yang menyebabkan perdarahan dalam tumor sehingga menimbulkan nyeri. Selain itu, selama kehamilan, tangkai tumor bisa terputar.
8.      Kehamilan dengan anemia ( Hb kurang dari 10,5 gr %)
Wanita hamil biasanya sering mengeluh sering letih, kepala pusing, sesak nafas, wajah pucat dan berbagai macam keluhan lainnya. Semua keluhan tersebut merupakan indikasi bahwa wanita hamil tersebut sedang menderita anemia pada masa kehamilan. Penyakit terjadi akibat rendahnya kandungan hemoglobin dalam tubuh semasa mengandung. Faktor yang mempengaruhi terjadinya anemia pada ibu hamil adalah kekurangan zat besi, infeksi, kekurangan asam folat dan kelainan haemoglobin. Anemia dalam kehamilan adalah suatu kondisi ibu dengan kadar nilai hemoglobin di bawah 11 gr% pada trimester satu dan tiga, atau kadar nilai hemoglobin kurang dari 10,5 gr% pada trimester dua. Perbedaan nilai batas diatas dihubungkan dengan kejadian hemodilusi.
9.      Kehamilan dengan riwayat bedah sesar sebelumnya.




Faktor JANIN :
1.      Kelainan letak janin (sungsang, lintang, oblique/diagonal, presentasi muka)
2.      Janin besar (tapsiran lebih dari 4000 gram)
3.      Janin ganda (kembar)
4.      Janin dengan pertumbuhan janin terhambat
5.      Janin kurang bulan (prematur)
6.      Janin dengan cacat bawaan/kelainan kongenital
7.      Janin meninggal dalam rahim. (Prita,2011)

5.   Ada beberapa komplikasi pada kehamilan risiko tinggi:
1.      Anemia
2.      Janin kecil
3.      Prematur yang tidak wajar
4.      Ketuban pecah dini
5.      Gestational diabetes
6.      Tekanan darah tinggi
7.      Placenta previa
8.      Hidramnion
9.      Penyakit rhesus
10.   Kehamilan post-term
11.   Kehamilan ganda
12.   Kehamilan etopik
13.   Keguguran
14.   Kematian janin
15.   Perdarahan pasca persalinan (Alaudine,2010)


6.   Mengelompokkan faktor kehamilan dengan risiko tinggi berdasarkan waktu kapan faktor tersebut mempengaruhinya :
A.     Faktor risiko tinggi menjelang kehamilan
a.   Faktor genetik
·      Penyakit turunan yang sering terjadi pada keluarga tertentu, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan sebelum kehamilan
·      Bila terjadi kehamilan, maka diperlukan pemeriksaan kelainan bawaan.
b.   Faktor lingkungan
·      Diperhitungkan faktor pendidikan dan sosial ekonomi.
·      Faktor pendidikan dan sosial ekonomi mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungan.
·      Mempengaruhi pemilihan tempat pertolongan persalinan.
B.     Faktor risiko tinggi yang bekerja selama kehamilan
a.   Faktor keadaan menjelang kehamilan
b.   Kebiasaan ibu (merokok, alkohol, kecanduan obat)
c.   Faktor penyakit yang mempengaruhi kehamilan. (Manuaba, 2009)

7.   Dampak Kehamilan Resiko Tinggi
a.    Keguguran.
Keguguran dapat terjadi secara tidak disengaja. misalnya : karena terkejut, cemas, stres. Tetapi ada juga keguguran yang sengaja dilakukan oleh tenaga non profesional sehingga dapat menimbulkan akibat efek samping yang serius seperti tingginya angka kematian dan infeksi alat reproduksi yang pada akhirnya dapat menimbulkan kemandulan.
b.    Persalinan prematur, berat badan lahir rendah (BBLR) dan kelainan bawaan.
Prematuritas terjadi karena kurang matangnya alat reproduksi
terutama rahim yang belum siap dalam suatu proses kehamilan, berat badan lahir rendah (BBLR) juga dipengaruhi oleh kurangnya gizi saat hamil dan juga umur ibu yang belum 20 tahun. Cacat bawaan dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan ibu tentang kehamilan, pengetahuan akan asupan gizi sangat rendah, pemeriksaan kehamilan (ANC) yang kurang, keadaan psikologi ibu kurang stabil. Selain itu cacat bawaan juga di sebabkan karena keturunan (genetik) proses pengguguran sendiri yang gagal, seperti dengan minum obat-obatan (gynecosit sytotec) atau dengan loncat-loncat dan memijat perutnya sendiri.
Pengetahuan ibu hamil akan gizi masih kurang, sehingga akan berakibat kekurangan berbagai zat yang diperlukan saat pertumbuhan dengan demikian akan mengakibatkan makin tingginya kelahiran prematur, berat badan lahir rendah dan cacat bawaan.
c.    Mudah terjadi infeksi.
Keadaan gizi buruk, tingkat sosial ekonomi rendah, dan stress memudahkan terjadi infeksi saat hamil terlebih pada kala nifas.

d.    Anemia kehamilan / kekurangan zat besi.
Penyebab anemia pada saat hamil disebabkan kurang pengetahuan akan pentingnya gizi pada saat hamil karena pada saat hamil mayoritas seorang ibu mengalami anemia. Tambahan zat besi dalam tubuh fungsinya untuk meningkatkan jumlah sel darah merah, membentuk sel darah merah janin dan plasenta. Lama kelamaan seorang yang kehilangan sel darah merah akan menjadi anemis.

e.    Keracunan Kehamilan (Gestosis).
Kombinasi keadaan alat reproduksi yang belum siap hamil dan anemia makin meningkatkan terjadinya keracunan hamil dalam bentuk pre-eklampsia atau eklampsia. Pre-eklampsia dan eklampsia memerlukan perhatian serius karena dapat menyebabkan kematian.

f.    Kematian ibu yang tinggi.
Kematian ibu pada saat melahirkan banyak disebabkan karena perdarahan dan infeksi. Selain itu angka kematian ibu karena keguguran juga cukup tinggi yang kebanyakan dilakukan oleh tenaga non profesional (dukun) (Ubaydillah, 2008).

8.   Adapun akibat resiko tinggi pada kehamilan antara lain:
a.  Resiko bagi ibunya :
1)  Mengalami perdarahan.
Perdarahan pada saat melahirkan antara lain disebabkan karena otot rahim yang terlalu lemah dalam proses involusi. Selain itu juga disebabkan selaput ketuban stosel (bekuan darah yang tertinggal didalam rahim). Kemudian proses pembekuan darah yang lambat dan juga dipengaruhi oleh adanya sobekan pada jalan lahir.

2)  Kemungkinan keguguran / abortus.
Pada saat hamil seorang ibu sangat memungkinkan terjadi keguguran. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor alamiah dan juga abortus yang disengaja, baik dengan obat-obatan maupun memakai alat.

3)  Persalinan yang lama dan sulit.
Persalinan yang disertai komplikasi pada ibu maupun janin merupakan penyebab dari persalinan lama yang dipengaruhi oleh kelainan letak janin, kelainan panggul, kelaina kekuatan his dan mengejan serta pimpinan persalinan yang salah. Kematian pada saat melahirkan juga disebabkan oleh perdarahan dan infeksi.

b.    Dari bayinya :
1)  Kemungkinan lahir belum cukup usia kehamilan.
Kelahiran prematur yang kurang dari 37 minggu (259 hari). Hal ini terjadi karena pada saat pertumbuhan janin zat yang diperlukan berkurang.
2)  Berat badan lahir rendah (BBLR).
Bayi yang lahir dengan berat badan yang kurang dari 2.500 gram kebanyakan  dipengaruhi oleh kurangnya gizi saat hamil dan umur ibu saat hamil kurang dari 20 tahun. Dapat juga dipengaruhi penyakit menahun yang diderita oleh ibu hamil.
3)  Cacat bawaan.
Cacat bawaan merupakan kelainan pertumbuhan struktur organ janin sejak saat pertumbuhan. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya kelainan genetik dan kromosom, infeksi, virus rubela serta faktor gizi dan kelainan hormon.
4)  Kematian bayi.
Kematian bayi yang masih berumur 7 hari pertama hidupnya atau kematian perinatal yang disebabkan  oleh berat badan kurang dari 2.500 gram, kehamilan kurang dari 37 minggu (259 hari), kelahiran kongenital serta lahir dengan asfiksia (Ubaydillah, 2008).